Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial

No Comments
Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial

Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana membebaskan, malah menjadi alat stratifikasi atau membagi masyarakat jadi kelas-kelas ekonomi dan sosial sejak awal.
Hal ini menjadi refleksi perayaan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei oleh Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. Ia mengatakan, dalam konstitusi diatur bahwa pemerintah/negara harus menyediakan pendidikan berkualitas dan merata bagi setiap anak bangsa.
Namun, yang terjadi saat ini pendidikan menjadi awal dari stratifikasi sosial. Berkembannya sektor swasta yang masuk ke ranah pendidikan, membuat negara seolah lepas tanggung jawab dalam memberikan pendidikan layak dan unggul.
Akhirnya, pendidikan saat ini malah cenderung menjadi industri untuk kepentingan bisnis. Semakin pragmatis dan komersial. "Kita bisa lihat dari adanya kebijakan Badan Hukum Pendidikan, dikotomi sekolah negeri standar internasional atau bukan. Semua ini membuat proses pendidikan jadi wadah pemisah status sosial," kata Fadli Zon.
Hal ini jelas bertentangan dengan konstitusi dan semangat Ki Hajar Dewantara saat mendirikan Taman Siswa. Taman Siswa dibentuk untuk memberi kesempatan bagi para pribumi jelata agar bisa memperoleh hak pendidikan yang sama.
Pendidikan jangan sampai menimbulkan kesenjangan sosial antara mereka yang mampu dan tak mampu secara ekonomi. Pendidikan di Indonesia harus bisa mencerdaskan dan memajukan semua anak bangsa, tanpa diskriminasi.
Pendidikan juga seharusnya memberi motivasi dan kesempatan bagi siswa untuk terus berkembang. Dalam konteks itu, Ujian Nasional sebagai salah satu instrumen telah gagal menunaikan maksudnya. UN harus dihapuskan. Sebab, output dari UN saat ini sangat jauh dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini menjadi perenungan di tengah amburadulnya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun ini. Hari Pendidikan menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pemerintah serius mengelola pendidikan dengan benar.
Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial 
sumber

back to top