Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial

Posted by

REPORTASEE.BLOGSPOT.COM - Tentang Artikel Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial ini: Sebagian Dari isi Artikel Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial Ini Adalah Hasil kutipan Dari Berbagai Sumber yang kami dapatkan di internet dan kami kumpulkan untuk membuat artikel, Tujuan kami adalah untuk menyebarluaskan infomasi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Anda Dapat mengajukan keberatan melalui kontak kami, atau melalui komentar di bawah posting, jika anda tidak setuju kami menyebarluaskan tulisan maupun gambar yang merupakan hak milik anda. Dan dengan senang hati kami akan menghapus konten bersangkutan dalam 1x24 jam setelah anda mengajukan kliam verivikasi.
Selamat Membaca!...

Jika Gugat MUI, Istri-istri Eyang Subur Cetak Sejarah
Fenomena Pendidikan Yang Semakin Komersial

Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana membebaskan, malah menjadi alat stratifikasi atau membagi masyarakat jadi kelas-kelas ekonomi dan sosial sejak awal.
Hal ini menjadi refleksi perayaan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei oleh Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. Ia mengatakan, dalam konstitusi diatur bahwa pemerintah/negara harus menyediakan pendidikan berkualitas dan merata bagi setiap anak bangsa. 

Jika Gugat MUI, Istri-istri Eyang Subur Cetak Sejarah 
Namun, yang terjadi saat ini pendidikan menjadi awal dari stratifikasi sosial. Berkembannya sektor swasta yang masuk ke ranah pendidikan, membuat negara seolah lepas tanggung jawab dalam memberikan pendidikan layak dan unggul.
Akhirnya, pendidikan saat ini malah cenderung menjadi industri untuk kepentingan bisnis. Semakin pragmatis dan komersial. "Kita bisa lihat dari adanya kebijakan Badan Hukum Pendidikan, dikotomi sekolah negeri standar internasional atau bukan. Semua ini membuat proses pendidikan jadi wadah pemisah status sosial," kata Fadli Zon.

Jika Gugat MUI, Istri-istri Eyang Subur Cetak Sejarah 
Hal ini jelas bertentangan dengan konstitusi dan semangat Ki Hajar Dewantara saat mendirikan Taman Siswa. Taman Siswa dibentuk untuk memberi kesempatan bagi para pribumi jelata agar bisa memperoleh hak pendidikan yang sama.
Pendidikan jangan sampai menimbulkan kesenjangan sosial antara mereka yang mampu dan tak mampu secara ekonomi. Pendidikan di Indonesia harus bisa mencerdaskan dan memajukan semua anak bangsa, tanpa diskriminasi.
Pendidikan juga seharusnya memberi motivasi dan kesempatan bagi siswa untuk terus berkembang. Dalam konteks itu, Ujian Nasional sebagai salah satu instrumen telah gagal menunaikan maksudnya. UN harus dihapuskan. Sebab, output dari UN saat ini sangat jauh dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini menjadi perenungan di tengah amburadulnya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun ini. Hari Pendidikan menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pemerintah serius mengelola pendidikan dengan benar.

Jika Gugat MUI, Istri-istri Eyang Subur Cetak Sejarah
sumber


Blog, Updated at: 17.39

0 komentar:

Poskan Komentar